Penjelasan BMKG Terkait Fenomena Hujan Es di Jakarta
Fenomena hujan es terjadi di Cawang, Jakarta Timur. BMKG mengatakan hujan es merupakan fenomena cuaca alami yang biasa terjadi dan termasuk dalam kejadian cuaca ekstrem.
Kepala Bagian Hubungan Masyarakat BMKG Hary Tirto Djatmiko menjelaskan hujan es disebabkan oleh adanya awan cumulonimbus (Cb). Dia menyebut ada tiga partikel di dalam awan tersebut, yakni butir air, butir air super dingin, dan partikel es.
Hary mengatakan awan cumulonimbus (Cb) itu berbentuk berlapis-lapis seperti bunga kol. Awan cumulonimbus dapat terbentuk dari dua proses, yakni strong updraft dan downdraft, dan lower freezing level.
Pertama, awan Cb dapat terbentuk karena proses pergerakan massa udara naik dan turun yang sangat kuat alias strong updraft dan downdraft. Strong updraft diketahui dapat membawa uap air naik hingga suhu udara menjadi sangat dingin dan uap air membeku menjadi partikel es.
Kedua, awan Cb juga dapat terbentuk karena adanya lapisan tingkat pembekuan atau freezing level yang lebih rendah dari ketinggian normalnya. Freezing level ini merupakan lapisan pada ketinggian tertentu di permukaan bumi yang suhu udaranya bernilai nol derajat celcius. Hal inilah menyebabkan butiran es yang jatuh ke permukaan bumi tidak mencair sempurna.
"Pada ketinggian ini, butiran air umumnya akan membeku menjadi partikel es. Di Indonesia umumnya lapisan tingkat pembekuan berada pada kisaran ketinggian antara 4-5 km di atas permukaan laut," sambungnya.
Hary mengatakan hujan es bersifat sangat lokal dan biasanya berlangsung kurang dari 10 menit dengan luasan wilayah 5 hingga 10 kilometer. Hujan es ini diketahui lebih sering terjadi pada musim peralihan atau pancaroba dan sering terjadi antara siang dan sore hari.
Hujan es hanya bisa diprediksi 30 menit hingga satu jam sebelum kejadian. Hary menyebut hujan es ini kecil kemungkinannya untuk kembali terjadi di tempat sama dalam waktu yang singkat.
Demikian kami informasikan, terima kasih.
Sumber: detiknews, BMKG

Komentar
Posting Komentar